DENPASAR, INFONEJANI.COM – Dalam tradisi umat Hindu, Hari Purnama bukan hanya sebuah momen untuk melakukan persembahyangan rutin, tetapi juga menjadi simbol dari kedalaman spiritualitas dan perjalanan batin menuju pencerahan. Setiap bulan saat bulan purnama (Sukla Paksa), umat Hindu memaknai hari ini sebagai waktu sakral untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Candra, Dewa Bulan.
Hari Purnama dirayakan dengan penuh khidmat dan kesadaran spiritual. Umat Hindu di berbagai daerah, khususnya di Bali, akan datang ke pura dengan membawa canangsari, daksina, dan sarana persembahyangan lainnya. Diiringi dengan wangi dupa dan irama kidung suci, para pemedek menghaturkan sembah bhakti dengan harapan mendapat anugerah keselamatan dan pencerahan lahir-batin.
Perayaan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Hindu, baik tua maupun muda, dari kalangan masyarakat biasa hingga rohaniwan. Selain persembahyangan kolektif, umat juga melakukan refleksi pribadi dalam bentuk meditasi, tapa brata, hingga mawas diri terhadap tindakan dan pikiran yang telah dilakukan.
Ritual dan perayaan Hari Purnama berlangsung di berbagai pura, rumah ibadah, bahkan di rumah-rumah umat Hindu sendiri. Di Bali, misalnya, Pura Besakih, Pura Ulun Danu Beratan, dan pura-pura desa lainnya kerap dipadati pemedek. Di luar Bali, komunitas Hindu di berbagai daerah Indonesia, seperti di Jawa Tengah, juga menjalankan tradisi serupa secara konsisten.
Sesuai dengan kalender Saka, Hari Purnama jatuh setiap 15 hari setelah Tilem, yaitu saat bulan mencapai bentuk purnamanya. Ini adalah waktu ketika energi alam semesta dipercaya mencapai puncaknya, sehingga menjadi saat yang tepat untuk pembersihan diri secara lahir dan batin.
Menurut Drs. I Gst. Putu Suardika, Anggota Paruman Walaka PHDI Provinsi Jawa Tengah dan Ketua Yayasan Karma Dupa, Hari Purnama bukan hanya sekadar rutinitas keagamaan, tetapi momentum spiritual yang dalam. “Kultur sembahyang ke pura dengan membawa canangsari dan janur memang sudah membudaya. Namun jika tidak diimbangi dengan pendalaman spiritualitas, maka esensinya kurang bermakna,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa spiritualitas Hindu menekankan perjalanan pribadi dalam mencari makna dan tujuan hidup yang hakiki, yaitu mencapai kebahagiaan lahir dan batin, atau dalam ajaran Hindu dikenal dengan Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma.
Dalam Brahma Purana 228.45 disebutkan bahwa tubuh adalah wadah untuk mencapai empat tujuan hidup utama: Dharma (kebenaran), Artha (kemakmuran), Kama (kesenangan), dan Moksa (pembebasan spiritual). Untuk itu, umat diimbau menjaga kebersihan lahiriah dan batiniah sebagai syarat mutlak menuju pencerahan rohani.
Sebagaimana dijelaskan dalam Veda Smrti Bab V.109:
“Adbhir gatrani suddhyanti, manah satyena suddhyanti, vidya tapobhyam bhutatma, budhir jnanena suddhyanti.”
(Tubuh disucikan dengan air, pikiran dengan kebenaran, jiwa dengan pelajaran suci dan tapa, serta kecerdasan dengan pengetahuan sejati).
Lebih jauh, dalam Sarasamuccaya ayat 14, Dharma diibaratkan sebagai perahu yang membawa manusia menyeberangi lautan samsara menuju tujuan akhir: surga dan moksa. Maka dari itu, Hari Purnama merupakan salah satu momentum menjalankan Bhakti Marga, yaitu jalan spiritual dengan ketulusan dan keikhlasan dalam berbakti kepada Tuhan melalui sembahyang dan ritual lainnya.
Purnama bukan sekadar perayaan bulanan atau seremoni keagamaan semata. Ia merupakan jembatan antara kultur dan spiritualitas yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidup umat Hindu. Dengan menghayati maknanya secara utuh, Purnama menjadi wahana evaluasi diri, pemurnian jiwa, dan pembaharuan tekad dalam menjalankan Dharma menuju Moksa.
Astungkara, semoga Hari Purnama senantiasa menjadi cahaya pemandu dalam perjalanan spiritual umat Hindu menuju kehidupan yang harmonis dan bermakna.(AG)
