Budaya
Home / Budaya / Lost Young Hindu Generation, Peringatan Tentang Hilangnya Identitas Generasi Muda Hindu di Perantauan

Lost Young Hindu Generation, Peringatan Tentang Hilangnya Identitas Generasi Muda Hindu di Perantauan

Ilustrasi “Paid Bangkung”, istilah dalam budaya Bali yang merujuk pada seseorang yang meninggalkan kepercayaan Hindu setelah menikah beda agama atau berpindah keyakinan. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam kajian Lost Young Hindu Generation. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi “Paid Bangkung”, istilah dalam budaya Bali yang merujuk pada seseorang yang meninggalkan kepercayaan Hindu setelah menikah beda agama atau berpindah keyakinan. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam kajian Lost Young Hindu Generation. (Foto: Istimewa)


DENPASAR, INFONEJANI.COM – Sebuah refleksi yang menggugah muncul dari pengalaman pribadi IGP Suardika saat tanpa sengaja bertemu dengan sahabat lamanya di Graha Dewata Hotel, Juwana.

Pertemuan tersebut menyisakan keprihatinan mendalam tentang fenomena “Lost Young Hindu Generation”, istilah yang merujuk pada hilangnya identitas keagamaan generasi muda Hindu yang merantau.

Dalam obrolan yang awalnya santai, sahabat Suardika tampak enggan membahas kondisi keluarganya di Bali, yang kemudian diketahui telah meninggalkan kepercayaan Hindu (paid bangkung).

Menurut Suardika, kejadian serupa kerap terjadi pada generasi muda Hindu Bali yang sejak dulu merantau, seperti sahabatnya yang sekitar 45 hingga 50 tahun lalu melanjutkan pendidikan teknik di Surabaya dengan harapan kelak membuka bengkel sesuai harapan keluarganya.

Minimnya pembekalan tentang ajaran tatwa Hindu di kalangan remaja perantau membuat mereka rentan kehilangan identitas spiritualnya. Umumnya hanya kultur Bali yang dibawa, dengan pemahaman keagamaan yang terbatas.

Bali Perkuat Pemerataan, 22 Proyek Strategis Digeber Lewat Sinergi Lintas Daerah

Dalam rentang usia remaja 17 hingga 25 tahun, godaan asmara di tanah rantau seringkali berujung pada pernikahan beda agama dan perpindahan keyakinan, sebagaimana banyak terjadi. Suardika menegaskan, jika Hindu masih bertahan dalam sikap status quo tanpa ada perubahan pendekatan, fenomena ini akan terus berulang.

Oleh sebab itu, ia mengajak agar pembinaan agama bagi generasi muda, terutama di masa emas (golden age), dilakukan secara intensif dan berkelanjutan untuk memperkuat iman dan identitas keagamaan sejak dini.

“Astungkara, semoga ini menjadi pelajaran dan bermanfaat bagi kita semua,” tutup Suardika dengan penuh harap.(AG)