Tabanan, Infonejani.com — Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya turun langsung ke tengah masyarakat Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Senin (5/1/2026), untuk berdialog terbuka dengan para petani dan tokoh masyarakat setempat. Pertemuan tersebut membahas langkah konkret pelestarian kawasan Jatiluwih yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.
Didampingi Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga serta jajaran pejabat terkait, Bupati Sanjaya mendengarkan aspirasi warga sekaligus menjelaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keaslian lanskap subak. Dialog berlangsung hangat dan konstruktif, hingga akhirnya mencapai kesepakatan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Salah satu poin penting yang disepakati adalah pelepasan atap seng pada sejumlah bangunan di kawasan persawahan Jatiluwih secara sukarela. Kebijakan ini diambil sebagai upaya menjaga nilai estetika, keaslian bentang alam, serta kearifan lokal yang menjadi ciri khas kawasan subak Jatiluwih.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan menegaskan rencana pemberlakuan moratorium pembangunan baru di kawasan tersebut. Pemkab juga akan menyusun standar bangunan yang selaras dengan nilai budaya, kelestarian lingkungan, serta filosofi Tri Hita Karana. Menurut Bupati Sanjaya, kebijakan ini bukan untuk membatasi ruang gerak ekonomi masyarakat, melainkan memastikan pembangunan berjalan seimbang dan berkelanjutan.
“Kita ingin Jatiluwih tetap terjaga identitasnya. Ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi tentang warisan budaya dan keharmonisan antara manusia, alam, dan budaya yang harus dijaga bersama,” tegas Bupati Sanjaya dalam dialog tersebut.
Kesepakatan itu mendapat respons positif dari masyarakat. Warga menilai kehadiran langsung pimpinan daerah sebagai bentuk kepemimpinan yang dekat dengan rakyat, terbuka terhadap dialog, serta memiliki visi jangka panjang. Bagi masyarakat Jatiluwih, kawasan ini kembali ditegaskan bukan sekadar destinasi wisata unggulan, melainkan simbol harmoni Bali yang patut diwariskan kepada generasi mendatang.(*)
